Hadirkan Qalbu dalam Shalat

Bismillaah

Hadirkan Qalbu dalam Shalat

Shalat memiliki rukun, wajib dan sunnahnya. Rukun seperti membaca al-Fathihah, wajib misalnya tasyahud awal, dan sunnah contohnya dzikir dalam ruku’ atau sujud.

Ruh shalat adalah niat, ikhlash, khusyu’, dan hadirnya qalbu. Shalat mengandung bacaan dzikir, do’a dan gerakan-gerakannya. Jika shalat tidak disertai dengan hadirnya qalbu, maka maksud dari dibacanya doa dan dzikir pun tidak akan terpenuhi. karena, ucapan yang tidak mengungkapkan apa yang ada dalam qalbu, ibarat igauan tanpa makna.

Bahkan, maksud dari gerakan-gerakan sholatpun juga tidak terpenuhi. Ketika seorang berdiri shalat, maksudnya ialah ia sedang berkhidmat kepada Alloh. Ketika ia ruku’ ataupun sujud, maka ia sedang merendahkan diri, sembari mengagungkan Alloh Ta’ala. Demikian seterusnya pada gerakan yang lain. Jika qalbu tidak hadir, maka maksud-maksud ini tidak akan tercapai.

Suatu perbuatan kapan ia keluar dari maksudnya, sama saja seperti gerakan biasayang kosong dari makna. Seperti Allot ta’ala firmankan mengenai perintah menyembelih,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” [1]

Maksud ayat di atas, bahwa sesuatu yang sampai kepada Alloh ialah sifat yang menguasai qalbu. Sehingga dengannya kita melakukan amalan-amalan yang Alloh Ta’ala perintahkan, sesuai dengan yang Alloh Ta;ala inginkan. Oleh karena itu, hadirkan qalbu dalam shalat adalah keharusan.

Caranya, jauhkanlah qalbu dari segala yang dapat mengacaukannya. Sebenarnya, qalbu akan mudah hadir dalam shalat, jika kita memang sudah memiliki himmah (keinginan kuat) untuk melakukan shalat.

Contoh, suatu hal yang kita rasakan. Jika kita menginginkan sesuatu, pasti sesuatu itu akan terus menyertai qalbu kita dengan sendirinya. maka, memusatkan keinginan untuk shalat adalah sebab terbesar hadirnya qalbu.

Kuat lemahnya hal itu sesuai dengan kadar keimanan kepada hari akhirdan hinanya dunia di mata seseorang. Kapan engkau melihat qaalbumu tidak pernah hadir dalam shalat, ketahuilah, hal itu dikarenakan lemahnya imanmu. Maka, bersungguh-sungguhlah untuk menguatkannya!

Setelah itu, pahamilah kandungkan makna bacaan. Memang terkadang qalbu hadir bersama lafadznya saja, tanpa memahami makna. Untuk bisa menghayatinya, diperlukan pengalihan seluruh pikiranpada kandungan makna. Sekaligus melawan segala lamunan yang menyibukan dari shalat. Memotong pangkal sebab lamunan tersebut. Sebab lamunan ada dua:

Pertama, sebab yang tampak, yang menyibukkan penglihatan atau pendengaran.

Kedua, sebab yang tidak tampak. Dan ini yang paling berat. Seperti seseorang yang pikirannya telah terbiasa melanglang buana dalam lembah-lembah harta dunia. Pikirannya pasti akan bercabang-bercabang, tidak terbatas dalam satu hal saja. Ia tetap selalu tersibukkan dengannya, walaupun matanya berusaha dipejamkan. Ya, satu hal saja sudah cukup melalaikan qalbu dari shalat. Lalu bagaimana bila bercabang ke sana kemari?

Cara menghilangkan sebab yang pertama, sebab yang tampak, adalah memutus segala yang dapat menyibukkan pendengaran atau penglihatan. Seperti dengan mendekati sutrah (pembatas dalam shalat), mengarahkan pandangan ke empat sujud, menghindari tempat-tempat yang ada gambar, ornamen, atau ukiran-ukiran padanya. Yaotu segala hal yang dapat mengalihkan pikiran dari shalat haruslah ia jauhi.

Suatu ketika Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah shalat menggunakan pakaian yang bercorak. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam melepasnyaseraya mengatakan yang artinya, “Seseungguhnya hal ini menggangguku shalatku[2].

Adapun sebab kedua yang tidak tampak, adalah dengan memaksa qalbu untuk memahami bacaan yang dibaca. Menyibukan qalbu dengan bacaan-bacaan itu, bukan yang lainnya. Sebelum shalat, segala permasalahan yang bisa mengganggu, dan memungkinkan untuk diselesaikan, maka selesaikan dahulu. Kemudian bersungguh-sungguh dalam mengosongkan qalbu dari lamunan-lamunan. Bersamaan dengan itu,selalu memperbarui  ingatannya pada akhirat, kengerian hari saat berdiri di hadapan Allah dan ditampakkannya amalan-amalan qalbunya.

Yang tidak kalah pentingnya dalam menghadirkan qalbu dalam shalat adalah pengagungan kepada Alloh. Ya, hadirkan pengagungan kepadanya dalam qalbu. yaitu dengan mengetahui kebesaran Alloh, dan dengan mengetahui kehinaan dirinya di hadapan-Nya. Dengan dua hal ini akan terlahir ketenangan qalbu dan kekhusyu’an. Wallaahu a’lam. [3]

Diterjemahkan secara bebas dari kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullaah

———————————–

[1] Q.S Al Hajj: 37

[2] Muttafaqun ‘alaih

[3] Ditulis oleh: Sufyan Alwi

Sumber: Majalah Tashfiyah Ed. 25

Iklan

One thought on “Hadirkan Qalbu dalam Shalat

  1. Ping balik: Hadirkan Qalbu dalam Shalat | Beranda Ummu Aisyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s