Wahai Rabbi, Terimalah Do’aku … !!!

Wahai saudaraku, ketahuilah…!!!, Bahwa dalam berdo’a kepada Allah hendaknya berupaya memenuhi syarat-syarat dalam berdo’a, memperhatikan adab-adabnya, dan memperhatikan pula waktu-waktu yang mustajab. Insya Allah, dengan memperhatikan itu semua, do’anya akan dikabulkan oleh Allah

A. Syarat-Syarat Dalam Berdo’a
1. Meyakini bahwa hanyalah Allah saja yang mampu mengabulkannya

Allah berfirman (artinya):
“Dan siapakah yang mampu mengabulkan do’a orang yang kesulitan dan menghilangkan kesusahan bila ia berdo’a kepada-Nya ?” (An Naml: 62)

Rasulullah bersabda:
ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإِجَابَةِ
“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin do’anya akan dikabulkan.” (HR. At Tirmidzi no. 3479, Shahihul Jami’ no. 245)

2. Mengikhlaskan do’a hanya kepada-Nya

Allah berfirman (artinya): “Dan berdo’alah kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah (do’a) kepada-Nya.” (Al A’raf: 29)

3. Berdo’a untuk kebaikan dan tidak tergesa-gesa
Rasulullah bersabda:
لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحْمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ ! مَا الاِسْتِعْجَالُ ؟ يَقُولَ : قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أرَ يَسْتَجِيْبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
“Senantiasa akan dikabulkan do’a seorang hamba, selama tidak untuk berbuat dosa, tidak untuk memutuskan silaturahmi dan tidak pula (memiliki sikap) tergesa-gesa (isti’jal). Wahai Rasulullah , apa yang dimaksud dengan isti’jal? Beliau menjawab: “Padahal aku telah berdo’a, padahal aku telah berdo’a, namun masih saja belum dikabulkan. Sehingga ia berhenti dan meninggalkan dari berdo’a (kepada Allah).” (HR. Muslim no. 2735)

4. Berprasangka baik kepada Allah

Rasulullah bersabda:
يَقُولُ اللهُ : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْكُرُنِي

“Allah berfirman (artinya): “Aku menyikapi (hamba-Ku) berdasarkan prasangka dia kepada-Ku. Dan Aku bersamanya selama dia mengingat-Ku.” (HR. Al Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Berprasangka baik kepada Allah dengan meyakini apa yang telah diputuskan oleh Allah adalah jalan yang terbaik bagi hamba. Karena hamba itu lemah untuk mengetahui hakekat kebaikan bagi dirinya. Semisal anak kecil, sangat bahaya bila ia diberi mainan yang ber-api. Walaupun pada dasarnya api itu sangat bermanfaat sekali.

Allah berfirman (artinya): “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu adalah amat baik bagi kalian, bisa jadi pula kalian menyukai sesuatu padahal itu adalah amat buruk bagi kalian. Allah Yang Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.” (Al Baqarah: 216)

5. Menjauhi perkara-perkara yang haram

Allah berfirman (artinya):
“Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa.” (Al Maidah: 24)
Dari Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Rasulullah , beliau bersabda (artinya): “Sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik. Lalu beliau menyebutkan seseorang yang lama bersafar (bepergian), rambutnya kusut, berdebu, kemudian ia menengadahkan kedua tangannya seraya berdo’a, wahai Rabbi, wahai Rabbi. Tetapi makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari yang haram, maka bagaimana mungkin akan dikabulkan do’anya?.” (HR. Muslim no. 105)
5. Tidak melalaikan perkara-perkara yang wajib
Seperti shalat lima waktu, bila waktu shalat telah datang dan adzan telah dikumandangkan, maka seharusnya segera menjawab adzan, menunaikan shalat berjama’ah dan tidak selayaknya menunda-nunda/mengakhirkan atau bahkan meninggalkannya.
Wahai saudaraku ketahuilah…!!! Sesungguhnya menunaikan ibadah-ibadah yang wajib dan ibadah-ibadah yang sunnah (seperti shadaqah/infaq atau lainnya), justru itu sebagai wasilah (perantara) terbesar untuk dikabulkannya do’a. Sebaliknya meninggalkan ibadah-ibadah yang wajib itu sebagai penghalang terbesar dikabulkannya do’a.

B. Adab-Adab Dalam Berdo’a
Di antaranya:
1. Memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi

Rasulullah bersabda:
إَذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِ اللهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادعُهُ
“Jika kamu telah selesai shalat lalu kamu duduk, maka pujilah Allah dengan apa yang pantas bagi-Nya dan bershalawatlah kapadaku, kemudian barulah kamu berdo’a.” (HR. At Tirmidzi no. 3467, Shahihul Jami’ no. 3988)
كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوْبٍ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَى النَّبِي
“Setiap do’a itu terhalang hingga ia bershalawat kepada Nabi .” (HR. At Tirmidzi no. 486, Shahihul Jami’ no. 4523)

2. Bertawassul dengan Al Asmaul Husna (nama-nama Allah yang mulia)
Allah berfirman (artinya):
“Dan Allah memiliki Al Asmaul Husna (nama-nama yang baik), maka berdo’alah kepada Allah dengan menyebut nama-nama tersebut.” (Al A’raf: 180)
Sebagai contohnya: Ya Razzaq (Wahai Yang Maha Pemberi rizqi) berikanlah/lapangkanlah kepadaku rizqi, Ya Ghaffar (Wahai Yang Maha Pengampun) ampunilah aku, Ya Rahim (Wahai Yang Maha Pemberi rahmat) limpahkanlah kepadaku rahmat-Mu, … dst.

3. Mengakui dosa dan kesalahan
Allah berfirman (artinya):
“Wahai Rabb-kami, kami adalah orang-orang yang berbuat zhalim pada diri-diri kami, kalau sekiranya Engkau tidak mengampuni (dosa-dosa) dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al A’raf: 23)

Demikian juga konteks do’a yang dikenal dengan sayyidul istighfar termasuk konteks do’a yang paling sempurna. Diantara sebab kesempurnaannya, karena terkandung pengakuan dosa dan kesalahan. Sebagaimana hadits Syaddad bin Aus , bahwa Nabi bersabda:
سَيِّدُ الإِسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ : اللهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَ أَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ وَأَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَليَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Pemimpin istighfar yaitu do’anya seorang hamba: “Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau. Engkau yang menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, dan aku di atas ikatan dan janji-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelakan yang pernah aku kerjakan. Aku mengakui semua nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui semua dosa-dosaku, maka ampunilah aku karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

“Barangsiapa mengucapkan do’a tersebut pada siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum sore hari, maka ia termasuk penghuni Al Jannah. Barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dengan penuh keyakinan lalu dia meninggal sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni Al Jannah. (HR. Al Bukhari no. 6306)

4. Khusyu’ dan menghadirkan hati
Allah berfirman (artinya): “Sesungguhnya mereka (para nabi) selalu bersegera di dalam kebaikan, dan selalu bersegera berdo’a dengan penuh harap dan cemas, serta mereka (berdo’a) dalam keadaan khusyu’.” (Al Anbiya’: 90)

Rasulullah bersabda:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَيَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ لاَهٍ
“Ketahuilah, bahwasanya Allah tidak akan mengabulkan suatu do’a dari hati yang lalai.” (HR. At Tirmidzi no. 3479, lihat Shahihul Jami’ no. 245)

5. Mantap dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a
Rasulullah bersabda:
لاَيَقُولَُ أَحَدُكُمْ اللهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعزِمَ الْمَسْئَلَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَمُسْتَكْرِهَ لَهُ
“Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan: “Ya, Allah ampunilah aku jika engkau kehendaki, rahmatilah aku jika Engkau kehendaki. Tetapi hendak dia mantap (bersungguh-sungguh) di dalam memohon, sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksa-Nya.” (HR. Al Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2678)

6. Mengangkat kedua tangannya
Rasulullah bersabda:
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya Rabb-kalian تَبَارَكَ وَ تَعَالَى adalah Dzat Maha Pemalu dan Maha Pengasih, Dia malu kepada hamba-Nya yang menengadakan kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan kedua tangannya tanpa membawa hasil.” (HR. Abu Dawud no. 1488)

7. Berwudhu’ sebelum berdo’a
Berdasarkan hadits Abu Musa Al Asy’ari ketika Nabi selesai dari perang Hunain. Abu Musa berkata: “Beliau meminta air lalu berwudhu’, kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya seraya berdo’a: “Ya Allah, ampunilah Ubaid bin Amir! Dan aku dapat melihat putihnya kedua ketiak beliau (saat beliau mengangkat kedua tangannya).” (HR. Al Bukhari no. 4323 dan Muslim no. 2498)

8. Berdo’a pada setiap keadaan
Yaitu berdo’a di saat lapang atau susah, suka ataupun duka. Biasanya, orang itu lebih cenderung sungguh-sungguh dan memperbanyak do’a manakala datang padanya kesulitan dan kesusahan, namun bila ia dalam keadaan lapang, cenderung lalai dan kurang sungguh-sungguh dalam berdo’a. Hal ini kurang tepat, karena Allah akan lebih mengabulkan do’a seorang hamba di saat sulit dan susah bila ia memperbanyak do’a di saat lapang.

Berdasarkan hadits Abu Hurairah , bahwa Rasulullah bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيْبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ فِي الرَّخَاءِ
“Barangsiapa yang senang Allah mengabulkan do’anya di saat kondisi-kondisi sulit dan susah, maka hendaknya dia memperbanyak do’a di saat lapang.” (HR. At Tirmidzi no. 3382, Ash Shahihah no. 593)

9. Mendo’akan kebaikan untuk saudara-saudaranya yang beriman
Di dalam berdo’a, di samping untuk dirinya sendiri, maka jangan lupa mendo’akan saudaranya yang seiman. Allah berfirman (artinya):

“Mohonlah ampun bagi dosamu, dan bagi dosa-dosa orang-orang mukminin dan mukminat.” (Muhammad: 19)

Rasulullah bersabda:
مَامِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيْهِ بِظَهْرِالْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ المَلَكُ : وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidaklah seorang muslim yang mendo’akan kebaikan bagi saudaranya tanpa sepengetahuannya, kecuali Malaikat akan berkata: “Dan semoga engkau akan mendapatkan semisal do’amu itu.” (HR. Muslim no. 2732)

C. Waktu-Waktu Mustajabah
Di antaranya:
1. Malam Lailatul Qadar.
2. Pertengahan malam dan di waktu sahur. (Lihat Adz Dzariyat: 18 dan HR. Al Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758, dari Abu Hurairah )
4. Antara adzan dan iqamah. (Lihat HR. Abu Dawud no. 521, At Tirmidzi no. 2121, Ahmad 3/155, Shahihul Jami’ no. 3408, dari Anas bin Malik )
5. Pada hari Jum’at (terkhusus setelah shalat Ashar). (Lihat HR Al Bukhari no. 953 dan Muslim no. 852)
6. Pada bulan Ramadhan. (Lihat HR. Al Bazzar no. 926, Shahih At Targhib wat Tarhib 1/419)
7. Pada hari Arafah. (Lihat HR. At Tirmidzi no. 3585, Shahihul Jami’ no. 3274)
8. Ketika safar (bepergian). (Lihat Shahih Al Adabul Mufrad no. 372)
9. Ketika puasa. (Lihat HR. Shahihul Jami’ no. 2032 dan Ash Shahihah no. 1797)
10. Do’a orang tua untuk kebaikan anaknya. (Lihat H.R. Al Baihaqi 3/485, Jami’ush Shahih no. 2032, dan Ash Shahihah no. 1797)
11. Do’a anak untuk kebaikan orang tuanya. (lihat H.R. Muslim no. 1631, dari Abu Hurairah )
12. Do’a di sisi orang yang sakit. (Lihat H.R. Muslim no. 919, dari Ummu Salamah)
13. Ketika sujud.
(Lihat HR. Muslim no. 482)
Demikianlah tulisan yang sangat ringkas ini, semoga dapat menambah keteguhan do’a kita kepada Allah Amiin, Ya Rabbal alamiin.

sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=128

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s