TATACARA DUDUK TASYAHHUD AKHIR DALAM SETIAP SHALAT (BG 1)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh

MENGENAL BEBERAPA ISTILAH DUDUK DI DALAM SHALAT



Sebelum kita memasuki inti pembahasan, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu beberapa istilah tatacara duduk yang nanti akan kami sebutkan disela-sela pembahasan. Berikut ini beberapa istilah yang penting untuk kita ketahui:

 

1) Duduk tawarruk, adalah duduk yang dilakukan dengan cara bagian belakang (pantat) duduk diatas lantai, dan kaki kiri dimajukan ke depan, dan ujung kaki kiri dikeluarkan kesebelah kanan, kemudian kaki kanan ditegakkan, dengan cara jari-jari kaki kanan diarahkan ke kiblat.

2) Duduk iftirasy, yaitu duduk yang dilakukan dengan cara bagian belakang (pantat) menduduki kaki kiri dan berada di atasnya, dan kaki kanan tetap ditegakkan dengan jari-jari kaki kanan diarahkan ke kiblat.

3) Duduk tarabbu’, yaitu duduk dengan cara bagian belakang pantat diatas lantai, kedua paha dimajukan kedepan, sementara betis kanan diselipkan ke sebelah kiri dan demikian pula sebaliknya, atau lebih dikenal dengan istilah “duduk bersila”.Diriwayatkan dari Aisyah –radhallahu anha- bahwa Beliau berkata:

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي متربعا

 

“Aku melihat Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam, shalat dalam keadaan duduk bersila.”[1]

 

Faedah: Asy-Syaikh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan ada tiga macam cara duduk tawarruk:

Pertama: seperti yang telah kami sebutkan diatas

Kedua: menghamparkan kedua kaki, baik yang kiri maupun yang kanan (tidak ditegakkan).

Ketiga: menghamparkan kaki kanan (tidak ditegakkan), lalu kaki kiri dimasukkan diantara paha dan betis kaki kanan.

Lalu beliau berkata: semua keadaan ini telah datang dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, tentang cara duduk tawarruk.[2]

 

Hal ini juga disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya zaadul ma’aad.[3]

 

 

 

 

Sumber : Risalah Ilmiah “ Tatacara Duduk Tasyahhud Akhir Dalam Setiap Shalat” Hal : 13-16


[1] HR.An-Nasaai (1661), Ad-Daruquthni (1/397), Ibnu Khuzaimah (2/89), Ibnu Hibban (2512),Al-Hakim dalam Al-mustadrak (1/410), Al-Baihaqi (2/305).Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasaai.

[2] (lihat Asy-Syarhul mumti’, Al-Utsaimin:3/300)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s